Sunday, April 17, 2011

Dunia di dada kota kita

Di setiap senja yang sudah-sudah, kau titipkan cemasmu di dalamnya
Maka, di senja-senja yang akan datang, aku akan menyebur ke dalam
Merasa bagaimana samudra udara menjadi abadi dalam ingatanmu
Asap-asap kota juga masuk di dalamnya. Nestapa masuk di dalamnya
Di sana, di titik di mana kau memisahkan cinta dan senyuman

Aku yang tak sempat menyadarkan diri dengan harapan dan dirimu
Adalah sepi. Bus-bus kota melaju, berputar-putar di panjang-pendek jalanan
Tak ada daya bagi doa. Jika setiap perjalanan adalah mobil-mobil tempat
Tawa dan tangis jadi satu. Setiap harapan adalah ketulusanku padamu
Yang pergi. Tak aku tak pula kau jadi belenggu sendiri-sendiri

Di mana-mana di kota ini kita tak berharap pelangi atau purnama yang indah
Sebab keindahan adalah perpisahan dan perjuangan. Kau yang selalu memilih lari
Aku yang selalu memilih tangis. Dan begitulah hari-hari. Cinta tak lebih harapan
Keindahan kita pada malam-malam yang menyembunyikan nuansa kita berdua
Hancurlah kebekuan-kebekuan kota dan bayangan pria pada perempuan

No comments:

Post a Comment